
Teropongindonesianews.com
Minggu, 01 Oktober 2023, umat Paroki di pusat paroki Santa Maria Magdalena Nangahure membuka bulan Rosario dengan liturgy Ekaristi bernuansa Etnis Lio. Pada umumnya umat dari Etnis Lio bahkan dari etnis lain semuanya mengenakan busana dengan motif adat Lio. Para pelayan liturgy seperti anggota koor, organis, lektor, pemazmur, penari, lengkap menggunakan pakaian adat Lio. Dekorasi di luar dan di dalam Gereja Paroki pun semuanya dalam motif etnis Lio. Tampak beberapa salempang dan kain-kain adat dimodifikasi menjadi hiasan yang sangat indah dan menambah semaraknya perayaan Ekaristi Pembukaan Bulan Rosario.
Perayaan Ekaristi diawali dengan prosesi penjemputan Arca Bunda Maria. Prosesi penjemputan dimulai dari depan Pastoran Paroki. Ratusan umat berarak bersama Arca Bunda Maria menuju gereja paroki diiringi musik gong gendang dan tarian dari Etnis Lio. Para penari yang pada umumnya adalah orangtua (ibu-ibu dan para bapak) dari Etnis Lio dengan penuh penghayatan menunjukan kebolehan mereka menari sambil mengarakkan Arca Bunda Maria yang diusung oleh empat orang bapak bersama umat, Imam dan misdinar menuju Gereja Paroki.

Pengalungan Arca Bunda Maria dan sapaan adat dilakukan sebelum Arca Bunda Maria diarak memasuki gereja. Sapaan adat atau doa-doa berupa ucapan syukur dan permohonan berbagai hal bagi kepentingan umat dipanjatkan kepada Tuhan bersama Bunda Maria dalam bahasa adat Lio. Ada keyakinan bahwa bersama Bunda Maria dan dengan perantaraan Puteranya Yesus Kristus segala permohonan dan ucapan syukur dikabulkan dan didengarkan Tuhan. “Kami percaya ucapan syukur, segala harapan dan permohonan yang dipanjatkan bersama Bunda Maria dan dengan perantaraan Puteranya Yesus Kristus akan dikabulkan oleh Allah. Tadi dalam bahasa adat Lio kami memohon agar umat diberikan kesehatan yang baik, curah hujan yang cukup, panenan dan rejeki yang berlimpah, dan dijauhkan dari segala sakit penyakit dan mara bahaya lainnya”, demikian Ibu Maria Daba bersama suaminya yang membawakan sapaan/doa adat dalam bahasa Lio.
Setelah ritual sapaan adat dan pengalungan, Arca Bunda Maria langsung diarak memasuki Gereja Paroki yang diawali dengan suara komentator dan lagu pembuka dalam bahasa Lio dan tarian adat. Tampak anak-anak mengiringi dan penghantar Arca Bunda Maria, Imam dan para misdinar dengan tarian adat Lio menuju Alatar Tuhan. Arca Bunda Maria lalu ditahtakan pada tempat yang sudah disiapkan yakni di samping kiri altar. Tampak umat begitu kusuk merayakan Ekaristi Pembukaan Bulan Rosario. Semua lagu, baik lagu-lagu Ordinarium maupun lagu-lagu Properium dinyanyikan dalam bahasa adat Lio, demikian juga doa umat

Pastor Rekan, P. Markus Mukri, CP selain memberikan homily singkat, juga berkatekese kepada umat yang memadati gereja paroki. Ada beberapa hal yang dikatekesekan antara lain, pertama berkaitan dengan perbedaan bulan Mei dan Oktober yang dkhusukan sebagai bulan Maria. Dijelaskan bahwa Bulan Mei sebagai bulan Ziarah sedangkan Bulan Oktober sebagai bulan Doa Rosario. Kedua, berkaitan dengan penggunaan terminology “Penghormatan/Menghormati dan Penyembahan/menyembah”. Menurut P. Mukri, CP kepada Bunda Maria terminology yang tepat digunakan adalah penghormatan/menghormati. Umat Katolik menghormati Bunda Maria karena dia dilibatkan Allah, dipilih Allah untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan manusia. Bunda Maria tidak disembah oleh umat Katolik. Kepada Bunda Maria diberikan pujian dan penghormatan yang istimewa sebagai tanda hormat kepadanya yang telah melahirkan Penebus dunia.
Sedangkan “penyembahan” atau “menyembah” lebih tepat digunakan atau diberikan hanya kepada Allah/Tuhan. Menyembah merupakan penghormatan yang hikmat dengan sujud dan memuja-memuji kepada Allah sumber kebaikan dan pencipta alam semesta. Menyembah Allah berarti memberikan segala penghormatan serta penyerahan diri secara absolute karena kerendahan kita di hadapan keagungan dan kemuliaan Allah. Umat Katolik hanya menyembah kepada Allah dan hal ini tertera dalam Kitab Suci sebagai kebenaran iman (Kel, 20:4-5).

Masyarakat etnis Lio sesungguhnya kaya dan kental dengan berbagai macam tradisi atau kebiasaan seperti dalam hal bercocok tanam, ritual menanam dan memanen, bagaimana menyimpan dan mengolah hasil panen sehingga menjadi makanan khas Etnis Lio. Selain itu mereka juga kaya akan kebudayaan baik yang bersifat material/benda maupun non material. “Kami orang Lio atau dari Etnis Lio sesungguhnya sangat kaya dengan hasil-hasil kebudayaan dan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang. Rumah adat, pakaian adat, rumah tempat penyimpanan makanan, makanan khas untuk upacara adat, dan kerajinan tangan adalah contoh-contoh kekayaan kebudayaan yang bersifat material yang kami punya selain yang bersifat non material seperti tarian tradisional, seni pertunjukan, lagu daerah, musik, pantun, puisi, bahasa, mitos, simbol, ritual, teknik menenun, demikian penjelasan Ibu Agnes Wangi, ketua adalah Panitia Perayaan Pembukaan Bulan Rosario yang dipercayakan umat dari Etnis Lio.

Selanjutnya, ibu Agnes Wangi mengapresiasi kebijakan pastor paroki mempercayakan tanggungan liturgy kepada umat dari berbagai etnis yang ada. Ia berharap hal ini tidak bersifat momental tetapi ke depan diatur atau dijadwalkan secara tetap oleh pengurus liturgy DPP dalam jadwal tetap tanggungan liturgy tahunan. “Sebagai salah satu tokoh umat, kami tentu sangat mendukung kebijakan ini. Umat tentu melibatkan diri, berpartisipasi dan berkontribusi. Rasa keadaerahan, rasa kesukuan dan etnisitas akan lebih kuat berkontribusi atau berpartisipasi untuk kehidupan rohani terutama dalam hal tanggungan liturgy, tambah ibu Agnes yang biasa dipanggil mama Mira.
Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure adalah salah satu paroki di Keuskupan Maumere dengan tingkat kemajemukan umat cukup tinggi. Sebagai paroki pinggiran kota Maumere, paroki ini berada bersama dengan sama saudara dari aliran keagamaan dan kepercayaan lain seperti agama Kristen Protestan dan Islam. Umat paroki pun berasal dari berbagai etnis, suku, bahasa dan budaya. Mayoritas umat berasal dari etnis, suku dan budaya Sikka, Sikka Krowe dan Tana Ai. Selain itu juga dari etnis Ende-Lio, Lamaholot-Larantuka, Nage & Keo-Nagekeo, Bajawa-Riung dan Manggarai. Perbedaan-perbedaan tersebut dilihat sebagai sebuah kekayaan yang potensial untuk pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan termasuk juga bidang kerohanian. “Kemajukan umat di bidang etnis, suku dan budaya adalah sebuah kekayaan yang bisa dijadikan jembatan untuk membangun iman umat. Kekayaan budaya, seperti pakaian-pakaian adat, tari-tarian, lagu-lagu rohani dalam bahasa daerah, bahan-bahan makan adalah sesuatu yang positif dan potensial dapat dimanfaatkan untuk kepentingan liturgy dan demi peningkatan iman umat selama tidak bertentangan dengan tradisi dan aturan gereja”, demikian P. Mukri, imam Konggregasi Paionis dari Magelang-Jawa Tengah dalam sebuah wawancara khusus.
Laporan Oleh Dionisius Ngeta, Komsos Paroki





