
Teropongindonesianews.com
Maumere – Negara Republik Indonesia sebagai sebuah negara pluralis dan majemuk yang memiliki dasar yang kuat adalah falsafah Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Kehidupan yang damai dan rukun menjadi idaman semua warga Negara kesatuan republik Indonesia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih saja terjadi masalah intoleransi dan radikalisme di beberapa daerah, seperti, tidak diizinkan pembangunan rumah ibadah, ujaran kebencian terhadap agama lain , mengkafirkan agama lain, bahkan masih menggunakan politik identitas yang dapat memecahbelah persatuan bangsa.

Situasi ini tidak terjadi di daerah kabupaten Sikka-Propinsi Nusa Tenggara Timur, karena hari ini ( Rabu,25/05/2022) dilaksanakan perayaan Halal bin Halal 1443 H dan Dharma Waisak 2566 BE, tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama kabupaten Sikka. Kegiatan ini bertemakan moderasi beragama membangun kebersamaan dan kedamaian, dan dihadiri oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik kabupaten Sikka,Forkompinda, Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Sikka, Ketua Majelis Ulama Indonesia kabupaten Sikka, Tokoh agama , para guru multi agama . Acara yang bernuansa kerukunan ini diisi dengan Hikma Halal bin Halal dan pesan Dharmasanti Waisak oleh ketua Majelis Ulama Indonesia dan Ketua Majelis Agama Budha kabupaten Sikka
Ketua Majelis Ulama Indonesia kabupaten Sikka, H.Ichsan Wahab dalam membawa hikma Halal bin Halal, menuturkan bahwa manusia itu seutunya atau sempurna tapi harus diuji dalam persoalan problematika kehidupan, dan model keberagaman yang ideal adalah model moderasi beragama. Moderasi beragama dalam islam sebenarnya sudah ada dalam kitab suci alquran dalam surat Al Baqarah 143. Jadilah umat yang ditengah, jangan terlalu cepat berjalan karena menunjukkan kesombongan dan jangan terlalu lamban berjalan karena menunjukan kerendahan dirimu. Lakukan apa yang aku perintahkan jangan berlebih-lebihan. Ini sebenarnya sebagai bentuk rambu-rambu untuk mengingatkan kita untuk selalu saling bergandeng tangan untuk saling menghormati antar umat beragama dalam situasi apapun.
Lanjut Ichasan,konteks kita di NTT khusunya di nian Sikka, Kita perlu pikir dan bertindak bersama untuk membangun daerah di tengah keanekaragaman. Tentu tidak tterlepas dengan faktor budaya dan sosial. Saya menyaksikan sendiri bagaimana busana agamais yang dibalut dengan tenunan motif Sikka yang dipakai anak-anak madrasah dalam kegiatan keagamaan . Ini menambah kekayaan budaya kita sebagai muslim di NTTi yang hidup berdamai. Karena kita memang berasal dari anak cucu adam yang sama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Herman Yosep Reda Lete,S.Ag.,MAB, dalam kata sambutan mengutip pernyataan presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno jangan sekali melupakan sejarah (jasmerah). Tentu kita mengingkat kembali sejarah berdirinya negara republik indonesia dan dasar Negara pancasila yang dirumuskan oleh panitia sembilan PPKI, dari Sembilan anggota hanya satu yang non islam dan panitia bersepakat mendirikan Negara Indonesia berdasarkan pancasila bukan berdasarkan agama tertentu. Ini menjadi dasar kita untuk hidup berdamai dan membina kerukunan, kita boleh berbeda suku,agama,ras namun tetap membangun kebersamaan.
Lanjut Heri acara Halal bin Halal dan perayaan Dharmasanti Waisak dirayakan secara bersama adalah bentuk moderasi beragama dalam merajut kebersamaan. Kita mesti bersama–sama menjaga hidup damai dan rukun di nian Sikka Tana Alok, melalui kearifan lokal “kula babong dan kula kameng”.
Servatius Sewar,selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik kabupaten Sikka, menyampaikan terimaksih kepada Kepala kantor kementerian agama kabupaten Sikka,telah melaksanakan berbagai kegiatan moderasi beragama sebagai bentuk keterlibatan nyata menjaga hubungan keharmonisan antar umat beragama di kabupaten Sikka.
Hal senada juga disampaikan Ketua FKUB kabupaten Sikka,RD.Teleforus Jenti,O.Carm, ungkapan khas orang Sikka “ Uhe Die Dan Hading , ( pintu selalu terbuka dan tangga selalu siap menanti kedatangan tamu) memberi arti bahwa orang Sikka selalu sifat terbuka atau menerima siapa saja tidak mengenal suku, agama dan ras. Dan ini sudah dijalani sejak zaman dulu oleh nenek moyang.
Kegiatan ini dihibur olek group Kemenag Voice dengan lagu-lagu nuansa toleransi, kelompok Qasidah ibu-ibu dari mesjid Mujahidin Geliting, kelompok Qasidah remaja Madrasah Pemana, Paga dan ditutup dengan perjamuan bersama.
( Kabiro Sikka; Agus Badjo )








