
Teropongindonesianews.com
– MENCERMATI PERNYATAAN PENOLAKAN KEHADIRAN TIM PIALA DUNIA U-20 ISRAEL –
Oleh : Dionisius Ngeta
Warga RT/RW 018/005 Kelurahan Wuring Kecamatan Alok Barat Maumere Flores Nusa Tenggara Timur
Semuanya tentang mimpi. Mimpi tentang kehidupan bernegara, berbangsa bahkan bagaimana hidup berdampingan dengan masyarakat dunia. Para pendiri bangsa, Ir. Soekarno-Hatta dan kawan-kawannya telah merumuskan dengan jelas dalam Pembukaan UUD ‘45 tentang mimpi-mimpi mereka itu.
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 terlihat dengan jelas mimpi para pendiri bangsa itu. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
Mimpi mereka yang sudah mati itu adalah tentang kemanusiaan, penegakan hak-hak hidup, kemanusiaan, keadilan dan kemerdekaan setiap warga suatu bangsa atau negara dari penjajahan. Hal itu sebagai bukti keberpihakan, solidaritas dan tanggungjawab kita sebagai bangsa dan negara terhadap dunia.
Pernyataan penolakan terhadap kehadiran Tim Sepakbola Israel dalam event Piala Dunia U-20 yang dilontarkan oleh beberapa politisi itu adalah juga usaha menghidupkan mimpi orang mati (Soekarno-Hatta dkk). Mimpi agar Israel tidak berlaga di Indonesia dengan alasan peri kemanusiaan, hak dan kemerdekaan dari penjajahan yang harus dihapuskan dari Palestina.
Bagi mereka, Israel adalah bangsa yang masih jauh dari peri kemanusiaan karena telah melakukan penjajahan terhadap Palestina dan merampas kemerdekaan yang merupakan hak mereka. Mereka mau menunjukkan kepada dunia terutama Palestina bahwa kemerdekaan Palestina adalah harga mati. Maka para politisi dari partai PDI-P mati-matian. Mungkin dengan pernyataan, Palestina langsung merdeka. Atau jangan-jangan mereka kehilangan, kehabisan atau ketiadan cara dan jalur yang lebih tepat dan efektif memperjuangkan kemerdekaan Palestina?
Karena itu mereka mati-matian menolak kehadiran tim Israel dalam event Piala Dunia U-20 dengan alasan ideologis itu walaupun sudah direncanakan dan diputuskan, kurang lebih setahun yang lalu untuk dihelat di Indonesia. Mimpi mereka itu menjadi nyata. Perhelatan akbar Piala Dunia U-20 yang sedianya Indonesia jadi tuan rumah dibatalkan FIFA. Senyum dan mungkin tawa bisa tersungging di bibir mereka, karena mimpi itu berbuah jadi kenyataan.
Pertemuan ketua PSSI utusan Presiden Jokowi pun terjadi tapi tidak membuahkan hasil. FIFA tetap membatalkan Piala Dunia U-20 digelar di Indonesia. Dana ratusan miliyar untuk persiapan dan pembenahan seakan sia-sia dikuburkan. Mimpi, antusiasme dan pengorbanan para pemain terkubur sia-sia. Air mata dan tangisan duka dan kecewa pecah di antara mereka dan keluarga. Ke mana lagi mereka melangkah untuk selanjutnya. Sekolah dan pendidikan mereka korbankan demi Garudi dan Indonesia seakan-akan sia-sialah sudah.
Menghidupkan mimpi-mimpi para pendiri bangsa memang tidak salah juga untuk membangun bangsa dan peradaban dunia yang lebih damai dan sejahtera serta menghormati hak dan kemerdekaan setiap warga negara. Tapi tidak semua mimpi orang mati tepat dihidupkan dan cocok untuk semua/segala hal atau masalah, misalnya soal pesepakbolaan. Dan tidak juga semua mimpi para pendiri bangsa itu dihidupkan dengan cara itu. Apakah dengan atau lewat cara itu efektif membantu Palestina merdeka. Apakah hanya dengan cara itu saja membantu kemerdekaan Palestina? Masih ada jalur lain yang bisa ditempuh misalnya lewat PPB. Jangan-jangan mimpi-mimpi luhur dari leluhur itu dipolitisasi untuk kepentingan sesaat semisal kepentingan 2024.
Penolakan terhadap kehadiran tim Israel oleh beberapa politisi tidak bisa dielak jika publik mengatakan itu adalah pernyataan politis dan cenderung berpotensi politisasi isu alias mimpi-mimpi mulia para leluhur, pendiri bangsa kita itu. Atau dengan kata lain pernyataan yang dilontarkan di saat-saat akhir itu merupakan politisasi mimpi orang mati, para leluhur pendiri bangsa untuk kepentingan sesaat dan hal itu membuat gaduh serta menguburkan mimpi-mimpi anak negeri. Opini dan persepsi ini tidak bisa dihindari dari kaca mata publik.
FIFA telah memutuskan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah dan hal itu sudah final sejak setahun silam. Demikian juga Israel lolos seleksi dan berhak masuk dalam Piala Dunia U-20 sudah lama diketahui. Mengapa pernyataan penolakan itu baru terjadi di saat-saat akhir. Mengapa pernyataan itu keluar dari mulut para politisi? Jangan-jangan demi menaikan reting, popularitas dan elektabilitas partai atau oknum partai yang digadang-gadangkan menjadi Capres 2024?
Mimpi besar menghidupkan mimpi orang mati justeru menguburkan mimpi-mimpi anak-anak negeri, orang-orang hidup yang menggantungkan kehidupannya pada bola dan ivent-ivent persepakbolaan itu seperti para pemain, para pelatih, para penonton, para penjual jajanan, penjual souvenir, tukan bakso, para pengusaha perhotelan, dunia pariwisata, perhubungan, kepercayaan terhadap negara dan lain-lain.
Anehnya lagi, Palestina yang dibela itu mematuhi aturan FIFA. Pernyataan Duta Besar Palestina meyakinkan kita bahwa Palestina tidak gagal paham dan mampu memisahkan antara masalah olah raga/sepak bola dan politik/diplomasi politik. Apakah dengan menerima Israel bermain di tanah air Indonesia menguburkan mimpi-mimpi leluhur kita, ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa lain terutama Palestina? Apakah diplomasi politik kita akan mati dengan kehadiran Tim Isreal itu?
Mimpi Presiden Jokowi dan PSSI yang sedang membenahi persepakbolaan di Indonesia dan terutama agar Piala Dunia U-20 digelar di Indonesia pun terkubur. Presiden Jokowi sepertinya tak berdaya di hadapan para politisi yang mengeluarkan pernyataan itu. Pada hal mereka adalah kepala daerah yang sudah menandatangani pernyataan bersedia menerima dan siap menggelar Piala Dunia U-20 itu. Publik pun bertanya-tanya. Siapa sesungguhnya yang berkuasa di negeri ini. Bagaimana koordinasi dan komunikasi pemerintah pusat (Presiden) yang nota bene adalah petugas partai PDIP dan para kepala daerah itu yang sama-sama datang dari partai yang sama? Adakah tangan yang tersembunyi yang menggerakan dibalik ini semua demi kepentingan sesaat?
Masyarakat Indonesia pada umumnya layak menyesal, kecewa, marah-marah, beropini, berasumsi dan lain sebagainya ketika perhelatan akbar sepak bola Piala Dunia U-20 itu batal digelar. Di mata dunia dan FIFA khususnya, Indonesia dicap sebagai Negara yang “senin-kamis”, alias tidak konsisten. Juga bisa dikatakan pembohong. Kewibawaan, marwah sebagai bangsa dan negara dan presiden sebagai kepala Negara dipertaruhkan. Indonesia terkucil dan mendapatkan persepsi negative di mata FIFA dan dunia. Mungkin juga sanksi-sanksi berikutnya akan diberikan FIFA. Dan jika itu terjadi, maka akan semakin banyak mimpi-mimpi anak negeri, orang-orang yang menggangtungkan hidup dan kehidupannya pada bola dan persepakbolaan itu terkubur sia-sia.
THE END







