
Teropongindonesianews.com
Banyuwangi – Pada hari Selasa, 21 Januari 2020, Puskesmas Wongsorejo, berkolaborasi dengan penduduk setempat, melakukan pengasapan (fogging) di rumah-rumah di Dusun Kebunrejo, RT 02 dan RT 03, RW 01, Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah dan memberantas tempat berkembang biak nyamuk, khususnya nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan vektor utama demam berdarah.
Yusup, Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Wongsorejo, menjelaskan pentingnya pengasapan. “Kami mengerahkan tim petugas Puskesmas untuk melakukan pengasapan di area perumahan dan kebun yang diduga menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk pembawa demam berdarah dan larvanya,” ujarnya.
Program pengasapan ini diluncurkan menyusul ditemukannya kasus demam berdarah di Dusun Kebunrejo, menurut Yusup. Ia juga menekankan perlunya pemeriksaan rutin terhadap wadah penyimpanan air di dalam komunitas untuk mengendalikan perkembangbiakan nyamuk.
“Kami menghimbau warga untuk menguras bak mandi minimal dua kali seminggu untuk mencegah pertumbuhan jentik nyamuk,” sarannya.
Operasi pengasapan ini diprakarsai atas permintaan masyarakat yang aktif berpartisipasi dalam upaya ini. Puskesmas Wongsorejo menyediakan peralatan dan personel, sementara warga masyarakat berkontribusi dalam pembiayaan.

Nurali, ketua “Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan” (GEMPEL), kelompok kesadaran lingkungan di Dusun Kebunrejo, menyoroti upaya kolektif tersebut. “Masyarakat, di bawah kepemimpinan GEMPEL, mencari solusi untuk mengatasi wabah demam berdarah. Kami berkoordinasi dengan Puskesmas Wongsorejo, yang setuju untuk melakukan pengasapan dengan syarat masyarakat berkontribusi secara finansial,” katanya.
Upaya kolektif masyarakat menghasilkan operasi pengasapan yang berhasil. “Kami mengumpulkan sumber daya, termasuk solar dan pertalite, dengan total sekitar Rp250.000 untuk operasi ini,” jelas Nurali.
Nurali menegaskan bahwa semua individu yang terjangkit demam berdarah di dalam komunitas telah pulih sepenuhnya. Operasi pengasapan dimulai dari lokasi terakhir diketahui anak yang terjangkit demam berdarah dan mencakup puluhan rumah.
Nurali menekankan perlunya partisipasi masyarakat yang berkelanjutan dalam memerangi demam berdarah. “Karena saat ini tidak ada program pengasapan yang didanai pemerintah, masyarakat dan Puskesmas Wongsorejo telah bermitra untuk mengatasi masalah ini. Namun, kami mengimbau kepada Dinas Kesehatan Banyuwangi untuk menerapkan program pengasapan rutin, baik secara berkala maupun selama musim hujan,” pungkasnya.
“Ini tidak hanya akan menguntungkan masyarakat kami tetapi juga seluruh Banyuwangi, memastikan bahwa penduduk kami terlindungi dari wabah demam berdarah,” kata Nurali.
Kurniadi








