
Oleh:
Venansius Alfando satrio
Mahasiswa Unika St paulus Ruteng. Bahasa dan sastra
Mungkin sajak ini tak berarti untuk beliau yang berdasi
Kami sudah lama di sini menelan pahit kian kemari
Ada apa dengan negeri kita hari ini yang selalu terselubungi
Mungkin tinta ini tak bermakna untuk beliau yang berkuasa
Kami masih merintih di sini tak pernah engkau peduli
Ada apa dengan bangsa kita hari ini yang selalu berantai
Mungkin bait ini tak berkesan untuk beliau yang berkedudukan
Kami masih tenggelam di telaga harapan engkau masih mengeram
Ada apa dengan tanah air kita hari ini yang selalu curam
Mungkin karya ini tak bercorak untuk beliau yang kami anggap tamak
Kami masih memarak di gubuk kawak tentang derita yang tidak pernah terkuak
Di mana cinta yang pernah berkata akan tanam
Di mana bangga yang pernah diucap tetap jaga
Di mana peduli yang pernah ditutur harus bisa
Kami sedang terluka melihat engkau tertawa
Kami kehabisan cara melihat engkau ketiduran
Kami sangat kecewa melihat engkau berpura-pura
Kami butuh rumah untuk berlindung bukan pedang untuk berperang
Kami butuh jalan untuk melangkah bukan jangkar untuk berhenti
Kami butuh jembatan untuk Menyebrang bukan senjata untuk menyerang
Bukalah matamu
Arahkan telingamu
Gerakkan hatimu
Untuk kami rakyat jelata
Oleh: Venansius Alfando satrio
Mahasiswa Unika St paulus Ruteng. Bahasa dan sastra.








