
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta
Koordinator Umum YASBIDA Cabang Sikka
Perubahan merupakan inti dari alam semesta, demikian keyakinan masyarakat Cina Kuno. Karena itu mereka sangat menghargai perubahan. Herakleitos, yang hidup di jaman Yunani Kuno (500 tahun SM) pun berkeyakinan sama. Bahwa tidak ada yang tetap di alam semesta, kecuali perubahan itu sendiri. Pemikir, sekaligus salah satu tokoh awal perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat itu, berkeyakinan bahwa perubahan adalah inti dari kehidupan. Segala sesuatu berubah. Waktu dan manusia berubah di dalamnya. Sama seperti Herakleitos, Aristoteles pun mengakui perubahan sebagai bagian penting dari kehidupan. Namun sedikit berbeda. Bagi Aristoteles, perubahanan adalah sebuah kemungkinan. Perubahan adalah kemungkinan.
Perayaan Paskah sudah berakhir. Suasana dan Masa Paskah pun akan berlalu. Kita akan dihadapkan dengan masa dan suasana biasa. Lalu, apa yang tak pernah berubah? Apa yang penting dan tak pernah berakhir? Ya, perubahan itu sendiri. Perayaan Paskah tidak hanya sekedar ritual dan rutinitas tahunan. Paskah mesti bisa membuahkan perubahan. Paskah tanpa perubahan sikap hanyalah ritual, rutinitas dan sandiwara iman. Sebagai sebuah perayaan iman, Paskah hendaknya menjadikan Umat Kristiani terobsesi untuk bangkit-berkembang dan berbuah dalam iman, harapan dan kasih. Sehingga perubahan peningkatan kualitas iman dan kehidupan menggereja bisa menjadi nyata dirasakan.
Perkembangan mengandaikan ada perubahan dan perubahan mengandaikan apa yang tedinya hanya kemungkinan bisa menjadi fakta/kenyataan. Artinya untuk berkembang harus memiliki sikap untuk berubah. Jika tidak mau berubah, maka perekembangan tidak akan pernah menjadi kenyataan dalam kehidupan. Banyak orang mau berkembang dalam hidupnya termasuk berkembang dalam iman, harapan dan kasih. Tapi mereka tidak bersedia berubah. Cara berpikir, cara bertindak, cara berperilaku, cara pandang masih seperti yang dulu.
Sebagai salah satu buah dari Paskah, perubahan hendaknya menjadi cita-cita bagi setiap umat kristiani, para pengikut Kristus yang merayakannya. Obama, terkenal dengan semboyang: “Change and Yes We Can”. Dia menawarkan perubahan. Perubahan hendaknya menjadi cita-cita setiap orang. Dan jika semua orang memiliki cita-cita yang sama, maka perubahan akan dapat terjadi kita lakukan. Namun tidak semua orang mau membuatnya menjadi nyata dalam hidup. Tidak sedikit orang yang hanya berkutat pada bibir saja atau sebatas pada tataran wacana dan kata-kata. Mereka sulit melakukan perubahan karena terikat oleh pola-pola dan cara-cara hidup lama. Atau mereka masih berada dalam “kuburan” cara pandang dan perilaku lama. Mata hati, pikiran dan perilaku masih ditutupi batu penghalang untuk bangkit-berubah seperti kemunfikan, egoisme, konsumerisme, fanatisme, hedonisme, saparatisme, korupsi, terorisme dan hal-hal lain yang bersifat deskruktif dan berakibat pada penderitaan, perpecahan, kemiskinan bahkan kematian secara fisik maupun rohani.
Paskah sebagai sebuah peristiwa iman dan dirayakan dengan meriah harus bisa membuahkan perubahan nyata dalam hidup setiap orang yang merayakannya. Paskah tanpa perubahan sikap iman, harapan dan kasih hanyalah sebuah rutinitas tahunan tanpa makna. Paskah tanpa perubahan sikap-mental dan tanpa peningkatan kualitas iman, harapan dan kasih dalam kehidupan, ia hanya sebuah seremonial dan ritual tahunan. Sebagaimana iman tanpa perubatan adalah mati, demikian juga Paskah tanpa perubahan hanyalah sandiwara iman bagi setiap orang yang merayakannya.
Salah satu tokoh yang memiliki sikap iman untuk berubah adalah Maria Magdalena. Dia adalah perampuan yang mengalami kasih dan mukjizat Tuhan. Dialah perampuan yang memiliki kemauan dan komitmen untuk berubah. Ia disembuhkan dari tujuh kuasa roh jahat. Ia mengambil pilihan dan berkomitmen untuk berubah dari kehidupan lama yang penuh dengan kegelapan dan dosa lalu berbalik mengikuti Kristus, Sang Terang Sejati.
Ketika belum bisa berubah, kita sesungguhnya masih terperangkap dalam suasana kegelapan dan belum mengalami terang kebangkitan itu sendiri. Kita adalah manusia lama, manusia yang masih berada dalam “kuburan kegelapan” dan belum mengalami kebangkitan yang sesungguhnya. Atau belum mau dibangkitkan bersama Kristus itu sendiri. Pengorbanan Yesus menjadi sia-sia. Perayaan meriah Paskah dan iman akan Yesus yang bangkit hanyalah sandiwara belaka.
Sebagaimana Maria Magdalena, kita sering kembali ke ‘kuburan”, haibitat kehidupan lama yang penuh dengan kegelapan dan kebusukan dosa dan salah. Kita terperangkap oleh kenikmatan suasana kegelapan yang membawa kita pada kematian secara spiritual padahal Yesus sudah bangkit. Sukacita kebangkitan masih jauh dari kehidupan karena di antara kita masih menguburkan dendam kesumat, benci dan iri di bilik hati.
Terkadang kita lebih suka terus berada dalam kegelapan, tempat aman untuk bisik-bisik dan kong kali kong akan hal-hal yang menyusahkan banyak orang dan merendahkan harkat dan martabat sebagai manusia ketimbang bangkit bersama Kristus dari keterpurukan. Kehidupan ini sering dijalani dengan tangisan dan keputusasaan hingga menghabiskan nyawa dengan cara-cara yang melanggar moral keagamaan, padahal Kristus sudah meluluhlantahkan suasana duka nesta dengan kebangkitanNya. Aborsi, pembunuhan bayi dan perdagangan anak-anak negeri adalah kekerasan yang sering terjadi dan mengindikasikan bahwa masih banyak yang terus mencintai dan berada dalam kuburan kegelapan dosa.
Pada sisi yang lain, Maria Magdalena adalah personifikasi pribadi yang belum mengerti dan belum percaya bahwa Yesus sudah bangkit. Hal itu disebabkan karena dia terlalu lama dan terlalu dalam berada dalam “kuburan” kesedihan. Kesedihan itu bahkan membuatnya tidak bisa mengenal Yesus dan percaya akan kebangkitan. Yesus yang ada di depan matanya pun dikira penjaga/penunggu taman. Karena itu segera beralih dan berani membongkar “batu penutup” yang menghalangi terciptanya perubahan adalah sebuah keniscyaan
Yesus mengenal suasana bathin setiap orang yang percaya kepadaNya, sebagaimana Dia mengenal Maria Magdalena. Segala perjuangan hidup dan pergolakan bathin setiap orang akibat keterpurukan dan tantangan untuk bangkit-berubah dalam hidup tentu diketahuiNya. Hanya perlu belajar untuk lebih rendah hati, mengenal sapaanNya dan mengulurkan tangan kepadaNya. Yesus tentu akan menyapa dan memanggil setiap orang dengan namanya masing-masing sebagaimana Yesus menggil Maria Magdalena. Hanya saja diperlukan keterbukaan dan kejujuran. Di saat itu kita akan mengenal bahwa itulah suara “Sang Guru”, Yesus yang telah bangkit mulia. “Guru”, yang membuat kita mengerti dan sungguh-sungguh percaya akan kebangkitanNya. Guru yang dapat membuat kita bangkit kembali dari keterpurukan dan kelemahan-kelemahan manusiawi, lalu menjadi pewarta dan saksi kebangkitanNya. Seperti Maria Magdalena, kita tentu mengalami perkembangan iman dan perubahan hidup yang luar bisa karena telah mengenal suara dan melihat Tuhan.
Kesedihan, penderitaan bahkan kegelapan dosa yang menenggelampkan harkat dan martabat dalam kuburan keterpurukan menjadi pengalaman berharga untuk belajar mengenal Yesus. Tuhan sering menggunakan pengalaman duka-nestapa, kesulitan dan tantangan bahkan penderitaan dan keterpurukan akibat dosa sebagai media untuk berubah dan sarana untuk belajar mengenalNya dan percaya sepenuhnya pada Dia.
Tak perlu begitu sedih dan putus asa. Yesus pasti mengulurkan tanganNya, menyapa dengan nama untuk setiap orang yang memiliki komitmen dan kemauan untuk berubah di saat yang tepat. Kita hanya perlu memiliki komitmen untuk belajar mengulurkan tangan dan membuka hati pada sapaanNya jika mau beralih dari manusia lama dan berubah menjadi “manusia kebangkitan” dalam kehidupan. Paskah adalah sebuah perubahan. Perubahan yang harus nampak dalam proses kehidupan kita. Perubahan dalam proses kehidupn inilah yang menjadi kesaksian hidup kita.
Paskah tanpa perubahan adalah sebuah sandirawa iman. Perayaan Paskah mesti membawa perubahan pada keyakinan dan orientasi hidup kita. Hal-hal duniawi mesti dilihat sebagai jalan, sarana untuk menghantar kita kepada hal-hal ilahi. Kahadiran dan keberadaan kita, tutur kata dan perilaku mesti membawa sesama untuk melihat dan bertemu dengan Tuhan yang bangkit dan hidup.
Ke manapun pergi, apapun yang dilakukan dan bagaimanapun yang dikatakan, kita adalah saksi-saksi hidup tentang kebangkitan Kristus. Orang lain mengenal suara dan melihat Tuhan melalui cara hidup kita, kata-kata dan perilaku kita. Itulah kesaksian akan kebangkitanNya. Melalui berbagai perubahan yang terjadi dalam hidup dan diri kita, maka orang akan berkata: “Aku telah melihat Tuhan yang telah bangkit mulia”.








