
Teropongindonesianews.com
Hari-hari ini, dunia makin terdigitalisasi. Sebab, digitalisasi adalah salah satu cara untuk mencapai kemajuan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai tekad yang kuat untuk mengembangkan ekosistem digital (Media Indonesia, 2021). Bahkan, Kementrian Informasi juga turut mengelompokan NTT sebagai daerah prioritas pengembangan digital.
Literasi digital urgen untuk mengembangkan NTT sebagai daerah digital. Pembangunan infrastruktur digital tidaklah cukup. Masyarakat NTT juga harus makin terliterasi digital. Sasaran paling besar adalah digital Native, pribumi digital, yang mendominasi masyarakat NTT.
Pengaruh Dominasi Digital Native.
Penguna digital terbagi dalam dua golongan besar, digital native dan digital immigrant. Kedua istilah ini dipopulerkan oleh Marc Prensky, dalam makalah Digital Immigrants, Digital Native. Digital immigrant atau imigran digital adalah generasi yang lahir sebelum perkembangan teknologi, lahir sebelum tahun 1980. Mereka biasa disebut sebagai generasi X, generasi Baby Bommers, dan generasi pra-Baby Boomers.
Sebaliknya, Pribumi digital atau digital Native merujuk pada masyarakat yang lahir dan bertumbuh pada saat perkembangan teknologi digital. Artinya, generasi ini lahir pada saat dan pasca revolusi internet, sekitar tahun1980-an dan 1990. Generasi ini sering disebut sebagai generasi milenial (1980-1997), generasi Z (1997-20, dan generasi post-Z. biasanya, generasi ini tampak akrab dengan tekonologi, serba online, dan berkolaborasi melalui jejaring.
Nusa Tenggara Timur didominasi oleh digital native, ketimbang digital immigrant. Jumlah generasi post-Z mencapai 0,4 juta jiwa atau 9,29 persen, generasi Z tercatat 1,83 juta atau sekitar 34,72 persen, dan milenial sebanyak 1,33 juta jiwa atau 25,17 persen. Sedangkan digital immigrant terdiri dari generasi X yang berjumlah 18,27 persen, baby boomer berjumlah 10, 56 persen dan pre-boomer berjumlah 1,99 persen. Bila ditakar, digital native mencapi 69,18 persen dari seluruh penduduk NTT (tribunNews, 2020).
Seorang yang berkategori digital native tentunya tidak dapat dilihat sebagai penerima dan pemroses informasi digital, tetapi juga sebagai produsennya. Di tangan digital native ini, petaka atau peluang bisa tercipta untuk NTT. Cyber bullyng, judi online, hoaks, dan fake news adalah petaka yang bisa muncul untuk NTT. Sebaliknya, ia juga menawarkan peluang, seperti e-comerce, pendidikan berbasis digital, dan lain-lain.
Keduanya bergantung pada digital native. Teknolgi digital hanya sebuah medium, dimana manusia bisa mengendalikannya. Media sosial, misalnya, menawarkan otonomi yang luas untuk pengguna. Setiap orang bisa menjadi sutradara, penikmat, dan distributor bagi informasi yang ditawarkannya.
Kabar buruknya, literasi digital NTT masih belum cukup memadai untuk menuju daerah digital. Dalam laporan Katadata Inside Center dan Kominfo, literasi digital NTT masih tergolong sedang (Media Indonesia, 2021). Kabar ini memperkecil peluang sekaligus memperbesar kemungkinan petaka untuk NTT. Kemajuan NTT hanya akan menjadi kemungkinan-kemungkinan yang tidak akan terwujud.
Literasi digital
Pada titik ini, urgensitas literasi digital sangat penting untuk digital native. Literasi digital bisa dikembangkan bagi digital native, untuk menuju NTT yang makin terdigital. Ini menjadi salah satu cara ampuh untuk mengembangkan NTT sebagai daerah digital.
Secara sederhana, literasi digital dipahami sebagai pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital. Bila merujuk pada buku Materi Pendukung Literasi Nasional (2017), Literasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan, dalam menemukan, mengevaluasi, mengunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara bijak, sehat, cerdas, cerpat, patuh dan taat pada hukum dalam rangka membina komunikasi dan interkasi dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi digital mengacu pada pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan sumber daya. Literasi berusaha untuk mengkomindasikan sumber daya, pengetahuan tentang produksi pesan, dan pengetahuan tentang cara desiminasinya.
Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan mencari dan membaca informasi, tetapi membaca dan menerima informasi secara kritis. Ia tidak menerima mentah informasi, tetapi berusaha untuk membandingkannya dengan sumber terpercaya.
Literasi seperti ini yang harus dimiliki oleh digital native Nusa Tenggara Timur untuk mencapai daerah digital. Digital native tidak hanya menerima dan mengopresikan computer secara serampangan, tetapi menerima dengan kritis dan menggunakan dengan mahir.
Untuk menunjang ini, pemerintah perlu mengembangkan beberapa langkah konkreat. Pertama, melakukan pelatihan dan kegiatan literasi digital di tengah masyarakat. Fasilitas digital yang ditawarakan pemerintah harus diiringi dengan pelatihan literasi digital. Pada gilirannya, kegiatan ini akan membuat masyarakat melek teknologi digital.
Kedua, sosialisasi penggunaan intenet yang benar. Hal ini sangat penting untuk mengarahkan masyarakat untuk menggunakan internet secara benar dan tepat. Selama ini, kasus doxing dan fake news berawal dari penyalagunaan internet. Dengan sosialisasi ini, masyarakat juga tidak mengotori dunia digital dengan beragam fake news, hoaks, diskriminasi, dan penipuan online.
Sehingga, literasi digital yang berkembang tidak hanya berguna bagi pengguna, tetapi juga bagi penguna lain. Hal ini tentu saja menciptkan ekositem digital yang bersih, nyaman, dan aman. Konsidisi seperti ini yang akan turut mendorong pertumbuhan digital.
Sumber BIOGRAFI
Penulis dengan nama lengkap Ewaldus Onesianus Kaur yang akrap disapa Ones adalah seorang mahasiswa aktif yang berkuliah di UNIKA Santu Paulus Ruteng, yang sedang menekuni ilmu Teknik Sipil.
https://kupang.tribunnews.com/2021/01/22/penduduk-ntt-533-juta-jiwa-per-september-2020
https://NTT Menuju Provinsi Digital (mediaindonesia.com)
Pewarta: Susilo Hermanus. Editor: Santoso.








