
(Mengenang Pesan Mama Saat Diwisudakan)
Kontributor, Dionisius Ngeta
Diwisudakan sebagai seorang yang sudah dinyatakan telah menyelesaikan sebuah pendidikan strata satu adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan. Kendatipun hal itu bukanlah ujung dari sebuah aktivitas pembelajaran. Bagi Anges Nona Melan, momentum 10 Oktober 2023 ketika ia diwisudakan bersama dengan 545 wisudawan/wisudawati lainnya di Universitas Nusa Nipa (UNIPA) adalah hari yang bukan hanya penuh syukur dan kebahagiaan. Tapi adalah hari penuh kenangan dan penuh dengan rasa bangga dengan situasi dan pekerjaan mama dan keluarga dimana dia tinggal.

“Hari ini bukan hanya memomen penuh syukur dan bahagia bagi saya. Tapi hari penuh kenangan akan pesan mama. Saya bangga dengan mama saya kendatipun dia adalah seorang single parent. Saya ingat dan mengenang kembali perjuangan dan kerja keras mama selama di bangku sekaloh sejak saya SD sampai perguruan tinggi ketika hari ini saya diwisudakan. Hari-hari penuh kenangan ketika saya menjajakan gorengan dari lorong-lorong saat saya SD, SMP dan SMA di Nangahure Bukit ini terlintas kembali dalam ingatan. Inilah kenangan yang membuat saya terus berjuang bersama mama yang ada di perantauan agar bisa mendapatkan sedikit uang”, demikian kenang Agnes Nona Melan yang bisa dipanggil Melan dengan rasa haru, yang membuat hadirin tertegun.

Namun sesungguhnya yang membuat Melan terharu penuh kenangan bahkan menggugurkan air mata bukan hanya tentang hal itu. Ia terharu bahkan meneteskan air mata adalah tentang pesan mamanya: Olivia Ovi Nona Linda (Linda). “Yang paling membuat saya terkesan, terharu dan selalu ingat adalah pesan mama yaitu “Melan…, cukup saya saja yang tidak tahu baca tulis”. Pesan ini selalu terngiang dalam hati dan jiwa saya. Pesan ini sungguh membakar semangat juang saya dalam seluruh perjuangan selama di bangku pendidikan hingga hari ini saya boleh diwisudakan. Bagi saya ini adalah motivasi terbesar dari mama untuk terus berjuang menjadi anak yang baik, berguna dan berpendidikan cukup. Saya bangga dengan mama dan bersyukur kepada Tuhan. Tuhan telah memberikan saya seorang mama yang baik, penuh perjuangan dan dengan setia mendukung dan mendampingi saya dengan pesan-pesan dan motivasinya walau ada di perantauan dan dia seorang diri berjuang. Sejak saya ada dalam kandungannya, bayi, anak-anak dan hingga sekarang mama berperan ganda, sebagai mama dan sebagai ayah/bapak (single parent). Tapi mama “survive”, bertahan untuk saya dan untuk keluarga. Mama ada di perantauan, bekerja hanya untuk saya. Hari ini dia tidak mendampingi saya, tapi dia selalu ada dalam hidup saya dengan motivasi, doa-doa dan dukungannya. Dia selalu ada dalam hati saya”, kenang Melan dengan penuh haru dan meneteskan air mata bahkan hadirin yang mengikuti acara syukuran sederhananya pun meneteskan air mata.

Agnes Nona Melan adalah wisudawati yang memilih Prodi Akuntansi. Perjuangan dan ketekunannya membuahkan hasil. Kata-kata motivasi mamanya sungguh dibatihinkannya dan menjadi roh yang selalu membakar daya juangnya menyelesaikan pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi dan boleh meraih Sarjana Akuntansi (S.Ak) dengan IPK 3,60. Hasil yang diraih ini adalah kebanggaan keluarga dan merupakan hadiah untuk keluarga terutama mamanya dan omanya. “Kelulusan dan hasil yang saya raih hari ini, saya persembahkan untuk mama, nenek Epadan dede Polus (paman) sekeluarga. Nenek Epa dan Dede Polus sekeluarga punya andil yang sangat besar dalam mendukung pendidikan saya. Selama dengan Nenek Epa dan dede Polus, hari-hari kami jual kue dari lorong ke lorong dan sayur-sayuran bersama nenek. Hal ini tidak membuat saya minder atau malu. Bagi saya ini adalah bagian dari proses belajar”, kenang Melan yang lahir di Maumere 10 Maret 2001.

Sebagai seorang wisudawati ia sadar bahwa perjuangan ini belum selesai. Pendidikan informal dan pembelajaran serta tantangan masih terus berlangsung sepanjang hidup. Ia tahu bahwa tantangan dan persaingan kehidupan selalu ada ke depan. “Saya sadar bahwa wisuda bukanlah titik akhir untuk berhenti belajar seperti yang ditegaskan oleh Rektor UNIPA, Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.Si dalam sambutannya. Terus belajar agar ilmu tetap terasah adalah sebuah keniscayaan bagi setiap wisudawan-wisudawati. Sehingga bisa bersaing di tengah dunia yang makin kompetitif ini”, demikian Agnes Nona Melan yang menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 3 dan pendidikan menenga atas di SMANSA Maumere.









