
Teropongindonesianews.com
Oleh : YULIANA GAGARI RAJA PATI LANDOMARI
Liburan NATARU (natal dan tahun baru) merupakan liburan yang di nantikan oleh semua orang mulai dari kalangan dewasa hingga anak untuk sekedar hang out atau menjenguk keluarga, berwisata, dan bahkan tidak sedikit juga yang menghabiskan waktu libur dengan kegiatan yang sedikit ekstrim seperti mengunjungi kebun binatang, diving, atau mendaki bukit. Kali ini saya bersama Forum Anak Desa Woewutu (FORATU) mengisi liburan dengan kegiatan Agrowisata yakni berekreasi sambil belajar bertani. Kali ini yang menjadi lokasi untuk kegiatan agrowisata adalah Desa Totomala, Watu Api, Kabupaten Nagekeo .
Kegiatan yang berlangsung tepat tanggal 3 Januari 2023 dengan melibatkan 32 anak FORATU plus 3 peserta Forum Anak Nagekeo (FAN), 3 pendamping FORATU, dan 7 tokoh masyarakat Desa Woewutu. Kegiatan ini mendapat respon positif dari berbagai Kalangan termasuk para mahasiswa, Wahana Visi Indonesia (WVI), Yayasan Kesehatan dan kesejahteraan Masyarakat (YAKKESTRA) dan masyarakat Desa Woewutu pada umumnya. Anak – anak begitu antusias menikmati hamparan areal pertanian seluas 3 ha yang mana setiap blok ditanami tanaman yang berbeda, seperti jagung, pepaya, cabai, pare dan terung ungu. Dengan menggunakan metode irigasi tetes, yang menghemat air dan pupuk. Air yang menetes dari selang akan pelan – pelan ke akar tanaman, sehingga tanaman tetap segar dan subur. Kasianus Sebho sebagai Bridge Academy yang mengelola lahan luas tersebut mengatakan bahwa lahan tersebut juga biasa dikunjungi mahasiswa jurusan pertanian serta kalangan pejabat sekedar sharing pengalaman dan juga untuk belajar. Dengan hunian yang nyaman membuat kami semakin betah dan semangat.

Kasianus menambahkan, “Setiap profesi tentu memiliki “Value” atau nilai yang berbeda. Artinya punya imbalannya masing – masing sesuai target. Dan untuk menjadi wirausaha muda tentu membutuhkan nyali yang kuat. Menahan setiap cemoohan, sindiran atau di bully teman sebaya. Salah satu dari sekian banyak profesi yang tak kalah mendatangkan keuntungan berlipat ganda adalah “petani”. Disini kita tidak diatur oleh siapa- siapa, dan yang menjadi Bos adalah kita sendiri. Dengan sistem kerja displin waktu pasti hasil panenan sesuai target. Tetapi jika kita malas yang memecat kita adalah hasil panen gagal. Kata memecat yang dimaksud adalah bahwa tanaman akan marah jika tidak dirawat atau diperhatikan secara khusus. Dia menambahkan ada keleluasaan dalam melakukan pekerjaan jika bertani. Karena usai panenan petani akan memiliki waktu banyak untuk berisitirahat. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terjun kedunia usaha membutuhkan modal yang tidak sedikit, sehingga jika kita mau belajar kita mulai dulu dari hal yang terkecil seperti belajar menanam cabai, tomat, kangkung disekitar rumah. Ini bertujuan mengkalkulasi dan membandingkan pengeluaran belanja harian rumah tangga kita dirumah. Anak- anak harus mulai dari yang sederhana seperti itu. Dan berbisnis pasti melalui setiap proses. Seperti jika kita memutuskan untuk berwirausaha tani, kita harus menyiapkan lahan, menggembur, menyiapkan benih, memupuk, menanam dan seterusnya. Dalam berbisnis kita juga harus jujur karena itu adalah kunci keberhasilan kita, ujarnya lagi.

Pada akhir sesi, dia memberikan bibit cabai kepada FORATU yang nantinya akan ditanam oleh setiap anak agar melatih anak untuk belajar dari hal terkecil.
Materi lain yang disampaikan pada kesempatan yang sama yaitu dari Ketua Forum Anak Nagekeo (FAN) Yohanes Surya Utama Sede atau biasa di sapa Surya tentang NO! GO! TELL!! Mengungkapkan bahwa di kalangan remaja istilah NO! GO! TELL!! Harus menjadi landasan untuk bisa menjaga diri. Istilah itu akan menjadi benteng untuk membebaskan diri dari segala bentuk kekerasan sexual. Kata “NO” artinya kita “menolak” untuk setiap ajakan dari teman yang menjerumuskan kita kedalam hal negatif. Contohnya: saat ada yang mengajak minum minuman keras, berjudi, merokok, atau melakukan pelecehan sexual serta tindakan tidak terpuji lainnya. Kata “GO” artinya “menjauh/ menghindar/lari” dari orang yang dicurigai, kerumunan pemabuk dan penjudi atau segera menghindar untuk melihat hal – hal yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan.
Dan yang terakhir kata “TELL” artinya “melapor/ menceritakan” hal yang negative seperti di atas kepada polisi, kerabat atau meminta bantuan orang lain untuk segera mendapat pengayoman.
Harapannya agar istilah ini terus dikampanyekan agar banyak generasi muda yang terselamatkan dari berbagai tindakan kekerasan.
Anak harus berani menjadi pelopor dan pelapor atas setiap kejadian yang dialaminya.
Bung Aan






