
Teropongindonesianews.com
(MENANGGAPI PENYATAAN BARBARIS DAN SARKASTIS ROKY GERUNG)
Oleh
Dionisius Ngeta, S. Fil
Pemerhati Masalah Sosial-Kemanusiaan
Warga RT/RW 018/005 Kelurahan Wuring, Kec. Alok Barat
Flores Nusa Tenggara Timur
“Manusia yang beradab adalah manusia yang respect pada orang lain,
baik sebagai pribadi/individu atau kedudukan mereka”
(Anton Pavlovich Chekhov,1860-1904).
Orang hebat adalah mereka yang mampu mengontrol emosi, tetap mengendepankan etika dan selalu menggunakan akal sehat. Mereka tetap menunjukan keadabannya dengan tidak mudah reaktif, emsional apalagi membalas kekerasan verbal yang menyerang pribadi ataupun yang membunuh karakternya dengan kekerasan. Mereka justeru mengampuninya dan melihatnya sebagai ujian komitmen untuk fokus pada hal-hal yang lebih penting dan bermanfaat bagi banyak orang.
Singa tak akan pernah menganggap meongan kucing”, komentar seorang netizen dan saya jadikan judul tulisan ini. Bukan soal kucing lebih lincah dan lebih jago berlari sehinga tidak dapat menerkam dan menggigitnya. Tapi masalahnya adalah untuk apa menangkap, menerkam dan menggigitnya. Jika Singa ingin menangkap, ia lebih suka menangkap mangsa yang lebih besar agar lebih lama dan puas menikmatinya.
Ketika diminta tanggapan atas pernyataan sarkastis dan barbaristis Roky Gerung atas dirinya, Presiden Jokowi dengan santai menjawab: “Itu masalah kecil, saya kerja saja”. Demikian juga putra sulungnya, Gibran Rakbuming Raka: “Biasa Wae Aku. “Iya, biasalah (dihina). Santai saja, nggih,”.
“Itu masalah kecil, saya kerja saja”. Jokowi konsisten dengan filosofinya sebagai pejabat Negara dan Pemerintah (Presiden) pilihan rakyat yaitu melayani. Karena itu sejak awal kepemimpinannya dia mengusung spirit pelayanannya yaitu kerja, kerja dan kerja. Hingga hari ini dia tetap konsisten dengan spiritualitas itu kendatipun pribadinya diserang. Ia irit bicara, tapi banyak kerja untuk kepentingan rakyat. Dia sadar bahwa pelayan biasanya tidak banyak bicara, pasti dimarah, dikritik jika tidak sesuai harapan dan keinginan bahkan dicaci maki oleh mereka yang harus mendapatkan pelayanannya.
Presiden Jokowi bukan pelayan yang tidak mengerti siapa itu Roky Gerung. Sebagai Kepala Negera dan Kepala Pemerintah, Jokowi mengerti karakteristik masyarakat, anak-anaknya, termasuk Roky Gerung. Sebagai salah satu anak kandung negeri ini, Roky Gerung memiliki karakteristik tersendiri dari dua ratusan juta jiwa masyarakat Indonesia.
Nada “meongan” Roky Gerung ketika melontarkan kritikan pun telah diketahui Jokowi. Bagi Presiden Jokowi, “tone” dan diksi, pilihan kata “meongan”-nya pasti sama dan itu-itu saja alias jauh dari etika dan keadaban. Karena itu Presiden Jokowi dengan santai menanggapi pernyataannya sebagai hal yang lumrah, hal yang kecil dan memilih konsisten dan fokus bekerja saja sebagai hal yang lebih penting.
Nada “meongan” Roky Gerung sesungguhnya adalah gambaran dirinya sendiri. Intonasi, diksi, kalimat atau bahasa yang digunakan Roky Gerung sesungguhnya menunjukkan keadabannya. “Manusia yang beradab adalah manusia yang respect pada orang lain, baik sebagai pribadi/individu atau kedudukan mereka” demikian penulis berkebangsaan Rusia (1860-1904) Anton Pavlovich Chekhov. Jika Roky Gerung adalah seorang intelektual-akademisi semestinya dia menunjukkan keadabannya sebagai seorang yang respect terhadap semua orang, siapa saja termasuk kedudukan atau jabatannya.
Benar, Roky Gerung adalah salah satu putera terbaik bangsa, anak kandung negeri ini yang cerdas dan jago berorasi. Suara “ngeongan”-nya sangat kritis. Tapi sering kali intonasi, diksi atau pilihan kata-katanya sangat sarkastis, barbaris, bombastis dan tanpa data yang merendahkan keadabannya sebagai seorang pengamat politik, akademisi, intelektualis dan pengajar filsafat. “Anda boleh jadi jagoan orasi. Tapi ingat bahwa bahasa dan diksi/pilihan kata memiliki makna dan intonasi. Bahasa adalah keadaban” demikian Prof. Rhenald Kasali Ph.D (katalogia.com,Kamis,03/08/2023).
Jika benar Roky Gerung adalah seorang filsuf, pengamat politik, itelektualis dan akademisi sesungguhnya dia telah MERENDAHKAN esensi akademis dan filsafat sebagai kerangka pencarian KEBIJAKSANAAN dan PEMBANGUNAN PERADABAN dan ETIKA selain ilmu pengetahuan dengan pernyataan yang dilontarkan ke ruang publik terhadap Presiden Jokowi. Demikian juga jika Roky Gerung adalah seorang Pengamat Politik. Prinsip keberimbangan dan edukasi publik dalam setiap pernyataan di ruang publik harus tetap berpegang pada etika, tata krama, sopan-santun dan keadaban sebagai akademisi dan intelektualis yang berkeadaban.
Roky Gerung mestinya bijak dalam melahirkan pernyataan kepada siapa saja apalagi di ruang publik termasuk kepada Presiden Jokowi. Karena semua orang punya kehormatan, termasuk Jokowi. Kendati yang dikritik dengan sangat barbaris dan sarkastis adalah jabatan dan kedudukannya, tapi Presiden Jokowi adalah Symbol Negara yang perlu dihormati dan dihargai.
Semestinya Roky Gerung bijak, menunjukkan kelas dan keadabannya sebagai seorang yang beretika dan sensitive terhadap symbol-simbol kenegaraan. Jika ada masyarakat atau kelompok masyarakat melakukan aksi penolakan dengan berkomentar lewat berbagai platform media bahkan demo di jalanan atas pernyataannya, maka sesungguhnya mereka lebih sensitive dan beradab, lebih menunjukkan penghormatan dan penghargaan terhadap Presiden Jokowi sebagai symbol negara.
Kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat atau suara-suara kritis atas kekurangan seseorang termasuk Presiden Jokowi mestinya tetap mengedepankan ETIKA dan PENGHORMATAN TERHADAP NILAI-NILAI KEMANUSIAAN SESEORANG. Pernyataan dan suara-suara kritis atau “meongan” penuh hinaan justeru merendahkan dan merusak KEBEBASAN dan DUNIA AKADEMIS itu sendiri.
Saya justeru melihat Roky Gerung adalah pengamat politik SARKASTIS dan BARBARIS yang sering “mengeong” tapi JAUH dari ETIKA dan PENGHORMATAN terhadap NILAI-NILAI KEMANUSIAAN. Dan saya prihatin, Roky Gerung adalah salah satu anak negeri yang “mengeong-ngeong” alias masih hidup dalam PENINDASAN KOLONIAL secara INTELEKTUAL karena dia sering menggunakan diksi-diksi usang peninggalan Kolonial seperti tolol, dengkul, bajingan, dan lain lain.
Hal ini menunjukkan bahwa Roky Gerung masih jauh dari sensitivitas atau rasa bahasa dan keadaban dalam menggunakan kata-kata di ruang publik. Menurut Prof. Rhenald Kasali Ph.D, Roky Gerung memiliki masalah romantisme percintaan, karena bahasa sesungguhnya mengajarkan rasa cinta kepada sesama manusia.
Jika Roky Gerung mengalami masalah dalam hal romantisme percintaan, dia sesungguhnya laksana kucing yang terperangkap dan selalu mengeong alias dia sedang menderita. Suara kasar dan tak tahu adab “meongannya” adalah indikasi dan sublimasi dari penderitaan itu.
Ketika Roky Gerung menyamaratakan penggunaan kata terhadap lawan bicara/dengan siapa dia bicara (anak-anak, teman, orang tua, tokoh, pejabat, usia lebih tua, dll) termasuk dengan Presiden Jokowi, dia sesungguhnya sedang menunjukkan dirinya jauh dari etika, kebijaksanaan dan keadaban sebagai manusia. Atau Roky Gerung sedang mengalami kedunguan dalam beretika sebagai masyarakat ketimuran kita.
Berhadapan dengan karakteristik seperti ini (Roky Gerung) dan masih banyak yang lain, Presiden Jokowi memilih konsisten dan fokus kerja bagi ratusan juta jiwa masyarakat Indonesia. Permasalahan mereka jauh lebih penting daripada menanggapi nyinyir yang memekakan telinga dan jauh dari keadaban. Nada nyinyir dan diksi suara kritikannya pasti abaikan nilai-nilai kemanusiaan dan itu-itu saja. Ibarat suara meongan kucing, dari dulu tak akan pernah berubah. Roky Gerung justeru terjebak oleh kesombongan dirinya bahwa dia paling rasional dan benar.
Presiden Jokowi mengetahui itu. Karena itu dia santai saja menanggapinya. Kehebatan, kejeniusan dan kenegarawan sejati seorang pemimpin adalah ketika menanggapi dengan santai dan positif setiap serangan terhadap dirinya atau setiap tantangan yang dihadapi. Karena itu Jokowi diakui dunia.
Jokowi adalah “Singa” yang tidak sembarang “mengaung” dan “menerkam”. Dia Jokowi tahu saat, siapa dan untuk apa dia menerkam dan menggigit dengan caranya sendiri. ”Saya bisa berbuat apa saja dan menggigit siapa saja dengan cara saya kalau itu untuk kepentingan masyarakat, demikian pernyataan Presiden Jokowi dalam sebuah kesempatan (News – Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia,12 November 2019 09:4). Dialah “Singa” yang hanya bisa “meraung-raung” dan siap menerkam (bahasa Jokowi: menggigit) jika hal itu berkaitan dengan kepentingan rakyat banyak. Atau jika hal itu berkaitan dengan kebutuhan rakyat dan berdampak luas pada permasalahan rakyat Indonesia.
Presiden Jokowi tidak sensitive jika “meongan” anak-anak negeri ini berkaitan dengan pribadi dan tidak berdampak pada kepentingan banyak orang. Dia tidak akan “menerkam” dan menggigit mereka. Dia justeru mengampuni dan memaafkan mereka. Karena itu Presiden Jokowi santai saja dan tetap menebar senyum kebahagiaan. Dia tahu yang berbahagia adalah mereka yang selalu bersyukur dan memangampuni. Itulah Singa, yang jauh lebih bijaksana!!
Lihat, Jokowi lebih suka “menerkam” Uni Eropa dengan menyetopkan ekspor bahan baku nikel karena dia tahu dampaknya besar untuk kepentingan masyarakat luas. Lihat, Jokowi lebih suka mengaung-ngaung lalu “menerkam” dan menggigit para mafia migas dengan membubarkan PETRAL karena dia tahu itu hal besar, mangsa besar yang merugikan masyarakat Indonesia. Freeport dibuatnya lebih banyak berkontribusi bagi Papua dan Indonesia. Jokowi “menerkam” alias menangkap para mafia illegal loging dan pencuri ikan karena hal itu berkaitan dengan marwah dan kedaulatan Bangsa dan Negara. Jokowi menerkam dan menggigit para koruptor dengan tidak mencampuri urusan yudikatif.
Singa tidak anggap memang meongan kucing di sekitarnya walaupun sesungguhnya begitu mudah dia menerkam, menggigit dan memakannya. Singa adalah raja hutan. Dia tahu apa yang harus dimangsa dan bagaimana menangkap mangsanya, apalagi hanya seekor kucing. Seorang raja hutan belantara memiliki perhitungan matang soal kemanfaatan dan kepentingannya. Seorang raja yang bijaksana adalah yang selalu mengutamakan kepentingan dan permasalahan rakyatnya kendatipun marwah dan harga dirinya dikorbankan.
Jawaban “Itu masalah kecil, saya kerja saja” Presiden Jokowi mengindikasikan sensitivitasnya terhadap kepentingan masyarakat dibandingkan baper dan sensitiv terhadap hal-hal kecil dan “meongan” orang-orang yang menyerang dirinya. Dia lebih sensitive, prioritas dan fokus terhadap permasalahan yang lebih besar yaitu kepentingan dan permasalahan masyarakat Indonesia. “….Saya kerja saja..”, adalah kesadaran seorang pemimpin, Presiden Jokowi bahwa masih ada hal-hal besar dan lebih penting berkaitan dengan permasalahan Bangsa dan Negara yang harus dikerjakan dan diselesaikan sebagai seorang pelayan masyarakat.
Karena itu Presiden Jokowi tidak perduli dengan “meongan” si Roky Gerung. Ia memilih fokus dan konsisten dengan filosofi pelayanannya sebagai pemimpin pilihan rakyat yaitu “Kerja, kerja dan kerja”. Jokowi adalah “Singa”, “raja hutan” yang irit bicara, tapi banyak bekerja dan sensitive terhadap kepentingan masyarakat. Dia adalah Presiden yang sering jalan alias turun ke setiap daerah.
Membangun Dari Desa, Daerah Terluar dan Terdepan adalah folofofi pembangunannya. Hal itu sungguh dirasakan dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negera di dunia dengan ketersediaan infrastruktur dari berbagai sektor yang kian memadai dan disegani. Presiden Jokowi adalah “Singa” yang komit dan konsisten terhadap pembangunan infrastruktur untuk kepentingan masyarakat walaupun ada banyak suara “meongan” miring.. Untuk permasalahan rakyat, Jokowi bisa berbuat apa saja bahkan mengaung-nganung, menerkam dan menggigit siapa saja. Dia rela mengorbankan diri, dihina bahkan dicaci maki. Dia tidak membalas, juteru mengampuni mereka.
Jokowi memiliki rasa cinta dan keadaban sebagai manusia. Maka dia selalu bahagia. Etika dan kebijaksanaan selalu dikedepankannya. Seluruh kerja-kerjanya sebagai Kepala Negara dan Pemerintah adalah sebuah pelayanan. Dia adalah Pemimpin dengan spirit pelayan yang konsisten dan taat konstitusi. Etika dan keadaban selalu dikedepankan. Tapi rasional dan professional selalu dijaga dalam seluruh kebijakannya.







