
Teropongindonesianews.com
Oleh : Max Umbu, Peneliti Teknologi
Investasi telah menjadi Biang Kerok utama dari makin parahnya masalah pertanahan Agraria di negeri yang dijuluki bangsa agraris ini.
Koboi tanah & investasi yang berjejaring secara masif, beroperasi seperti gerakan organisasi tanpa bentuk namun akibat dari aksi mereka bersifat nyata, ada korban !?, tidak sedikit tetapi makin banyak, sebagian besar kasus-kasus pertanahan tak terselesaikan, menimbulkan dampak sosial, merenggang dan meranggasnya kesetiakawanan sosial dan budaya di akar rumput.
Signal bahwa koboi tanah yang beroperasi dengan alasan investasi sebagai kuda tunggangan tercium namun tak atau belum diraba dan diamankan pihak penegak hukum, seperti kentut yang tercium tapi tak teraba.
Koboi tanah yang beroperasi dari pusat sampai ke daerah yang berjaring dengan mereka yang memiliki pengaruh baik itu kekuasaan ataupun ekonomi serta sosial telah merampas eksistensi lokalitas masyarakat terutama di daerah. Mereka harus Terusir dari tanah milik mereka yang merupakan peninggalan leluhur mereka terutama tanah-tanah milik adat dan budaya yang pada dasarnya merupakan bukan hanya simbol tetapi juga merupakan fakta dari eksistensi kepemilikan dan keberadaan mereka di tanah milik mereka sendiri.
Akibatnya bukan saja untuk sementara mereka harus terpaksa menjadi jongos atau budak Para investor koboi dan para koboi tanah yang beroperasi dengan motivasi dan argumentasi politik pembangunan nasional atau bahkan politik Pembangunan Daerah.
Data aktivitas Setra realitas dari dampak kinerja para koboi tanah dan investor koboi serta parabousir di Indonesia jika itu benar bahwa 59% dikuasai oleh 1% atau segelintir warga negara Indonesia yang dengan demikian tidak satu persennya pula memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara maka dapat dirumuskan bahwa ada Capital flight- financial flight ke luar negeri, segelintir orang atau kelompok orang tersebut tidak menyimpan hasil usahanya di Indonesia, tidak terjadi multiplier effect, dan ini berarti indikasi kuat adanya korupsi berjamaah ( main mata antara segelintir kelompok penguasa dan pengusaha).
Indonesia dengan segala potensinya hanya dijadikan sebagai tempat atau ladang ruang usaha, untuk hasilnya kemudian diangkut dan dibawa ke luar negeri dan dananya disimpan di luar negeri, dan kemudian dana itu masuk lagi ke dalam negeri dengan argumentasi pinjaman utang luar negeri atau utang usaha bagi para pengusaha swasta ( Kanibalisme Financial dan investasi), ini berlanjut Dan terus berkesinambungan dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan efek bola salju, yang berpotensi menimbulkan keresahan dan kerusuhan sosial, yang mana situasi dan kondisi itu merupakan celah dan pintu gerbang bagi masuknya kepentingan asing yang jauh lebih besar lagi.
Mungkin kita masih ingat Bagaimana indonesia dijadikan semacam bak sampah raksasa tempat pembuangan dari barang-barang bekas baik itu pakaian bekas, sampah-sampah industri yang Bahkan dijadikan sebagai komoditas ekspor ilegal, kita akan dengan mudah mendapatkan produk-produk sampah seperti ini di pasaran dalam negeri di pasaran loak yang dijual dengan harga yang sangat murah dan tidak higienis.
• SISI NEGATIF MODUS MODUS INVESTASI
Saya berikan contoh sederhana saja agar dapat dimengerti sebagai berikut.
Pemerintah sedang menggenjot investasi secara besar-besaran, terutama itu di bidang infrastruktur fisik yang melibatkan prasyarat Tersedianya tanah atau lahan dalam jumlah dan luasan yang sangat besar, untuk itu aspek finansial berupa pinjaman dalam negeri maupun modal swasta dalam negeri otomatis harus dicurahkan ke sana, namun Apakah anda tahu dampak negatif dari modus seperti ini ?
Melajunya pembangunan infrastruktur fisik pada dasarnya tidak ada salahnya namun yang menjadi masalah utama adalah ketika percepatan pembangunan infrastruktur fisik itu lebih cepat daripada kesiapan masyarakat lokal untuk berpartisipasi atau diikutsertakan dalam aktivitas proyek tersebut maka selesainya proyek tersebut justru akan menimbulkan dampak pengerukan sumber daya alam yang semakin dipercepat sementara masyarakat yang belum dipersiapkan untuk ambil bagian dan menikmati dari manfaat proyek tersebut hanya akan menanggung akibatnya di kemudian hari.
Setelah masyarakat siap dengan segala aspek pengetahuan lewat pendidikan dan latihan namun ketika hendak berusaha maka sumber daya alam telah habis dikeruk lebih dahulu.
Sehingga dengan demikian, efek jangka menengah dan panjangnya modus investasi yang dilakukan saat ini sangat berbahaya, oleh karena tidak adanya keseimbangan dan keseimbangan antara percepatan investasi di satu sisi dan kesiapan dan penyiapan kepesertaan masyarakat lokal ke dalamnya.
Untuk lebih mudahnya lagi saya berikan contoh riilnya saja sebagai berikut. Andaikan saja sedang dibangun proyek pembangunan jalan yang di dalamnya melibatkan masyarakat pedesaan, namun jika dana-dana Desa tidak diikutsertakan sebagai supplier bahan baku material lokal dan Justru lebih mementingkan sumber material dari lain daerah atau bahkan luar negeri maka, sumber daya alam dan sumber daya manusia serta sumber daya finansial desa yang sebenarnya juga berasal dari pusat tidak akan pernah berputar dan memberikan Efek ganda ( multiplayer effect).
Sehingga Dana yang dikulturkan lewat Dana Desa hanya akan menjadi Dana mati ( dana konsumtif serta dana penyelenggaraan birokrasi dan administrasi belaka).
Situasi dan kondisi seperti itulah yang terjadi di Australia di mana penduduk asli atau pribumi Australia masyarakat Aborigin akhirnya menjadi masyarakat yang termarginalkan terusir dan terampas tanah mereka, maka jadilah Australia yang tadinya benua coklat menjadi Benua Biru. Hanya satu dua orang dari orang Aborigin asli yang sengaja didorong untuk maju sebagai pengusaha itupun seorang wanita yang tidak memberikan dampak apa-apa terhadap pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Aborigin asli.
Saya sengaja sodorkan kisah nyata sederhana ini dari apa yang terjadi pada masyarakat Aborigin tetangga kita di Pasifik, yang jauh dan jaraknya hanya selemparan batu dari negeri kita.
• REZIM INVESTOR KOBOI & INVESTOR NAKAL
Mereka bekerja dengan memanfaatkan komprador nasional dan lokal… silakan ya investor dan koboi berdasi asing dan asing ini memanfaatkan para koboi hitam, sebagai kuku untuk menggaruk dan merampas hak masyarakat lokal atas tanah mereka.
Inventarisasi dan sertifikasi lahan telah menjadi salah satu modus untuk mengesahkan perampasan tanah yang dicap sebagai cara yang legal.
Ketika terjadi kerusuhan akibat status tanah maka para penegak hukum justru memiliki kemampuan finansial untuk mengadvokasi misi mereka dibandingkan masyarakat. Para penegak hukum justru datang ke lapangan dikawal oleh para penegak hukum.
Para penegak hukum tidak berdiri di tengah tetapi berpihak pada pemilik modal atau para pengusaha bercita rasa pengusaha itu.
Ini jelas-jelas merupakan bentuk radikalisme yang jauh lebih berbahaya daripada radikalisme ideologis. Why ?. Karena pada faktanya kearifan lokal yang memiliki adat dan istiadat beserta suku-suku yang memiliki tanah sebagai bukti dan fakta identitas mereka telah dirampas.
Walaupun secara ideologis kearifan lokal adat istiadat dan budaya yang di dalamnya termasuk aset tanah milik adat dan budaya sebagai fakta identitas kepemilikan mereka sebagai pilar utama yang menyokong keutuhan dan kekokohan Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Pada titik ini terjadi ambivalensi antara nasionalisme yang berusaha menegakkan supremasi dan kekuatan ideologi Pancasila sebagai pilar utama namun di sisi lain tetap menggerus dan merontokkan sumber utama yang menjadi Mitra juang ideologi Pancasila dalam rangka melawan pengaruh-pengaruh negatif asing yang merugikan….( inilah yang saya sebut sebagai politik kanibal pembangunan nasional).
Janji presiden Jokowi untuk memberantas mafia tanah telah berujung pada penunjukan mantan panglima ABRI sebagai menteri yang mengurusi masalah agraria ini… pertanyaan mendatarnya Apakah itu ada dampaknya ?, sejauh yang saya perhatikan Sampai dengan saat ini justru tidak ada perubahan…, dan ini berarti Presiden Joko Widodo harus merubah modus, jangan sampai ada musuh dalam selimut !!!
• KPK & MAFIA TANAH
Dalam urusan mafia Tanah ini KPK masih belum benar-benar efektif. Kalau boleh saya katakan KPK masih tumpul soal ini. Ini salah satu sebabnya karena KPK dalam sistem operasinya masih terpusat.
Maka jadilah KPK itu sebagai sebuah lembaga yang tidak ubahnya seperti boneka yang sengaja digantung di lahan para petani untuk menakut-nakuti burung.
Bersambung









