Siswa belajar
Teropongindonesianews.com
OLEH: Cesilya Andini Winarti
Siswi kelas 7 SMP NEGERI 3 NANGARORO
Pagi yang cerah, seperti biasanya aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak menuju sekolahku. Jarak yang begitu jauh sekitar sepuluh kiloan dan juga kondisi jalan yang buruk serta harus melewati sebuah sungai membuatku ekstra hati – hati. Jika musim hujan maka sungai mengalirkan air deras dan terjadilah banjir besar serta meninggalkan lumpur banyak. Namun tantangan tersebut tidak menyurutkan semangatku sedikitpun untuk menuntut ilmu.
Dengan doa dan untaian kata – kata motivasi dari bapak dan mama, selalu mengiringi langkahku. Dan hal itulah yang membuatku semakin semangat dan kuat.
“Selamat pagi, Pak!” aku menyapa penjaga sekolah dengan gembira. Dia tersenyum padaku dan akupun segera berlalu darinya. Aku melewati koridor sekolah dan akupun terhenti sejenak. Mataku tertuju pada sebuah pengumuman sekolah. Sepertinya ada sesuatu yang penting, gumamku dalam hati. Aku mendekati papan pengumuman dan kulihat bahwa sekolah akan mengadakan perlombaan membaca puisi dan menulis cerpen. “Ahh, mungkin dengan mengikuti ajang ini aku dapat mewujudkan impian terbesarku menjadi seorang penulis yang karyanya dihargai dan menjadi inspirasi banyak orang.” Gumamku lagi dalam hati.
“Andini…..” aku menoleh ke arah suara yang membuatku kaget. “Eh, Mira. Sejak kapan kamu berada disini?” tanyaku pada teman sekelasku itu.
“Baru saja.” Jawabnya singkat.
“Teng….teng…..teng…..” perbincangan kami terhenti karena bunyi lonceng sekolah yang menandakan kami para siswa berbaris untuk mendengarkan pengarahan dari kepala sekolah.
“Dua minggu lagi sekolah kita akan mengadakan perlombaan membaca puisi dan menulis cerpen. Bapak harap kalian bisa berpartisipasi secara aktif untuk mengikuti perlombaan.” Ujar kepala sekolah.
Kami Kembali ke kelas masing- masing dan hiruk pikuk suasana kelas menyambutku. Kudengar perbincangan teman sekelasku mengenai perlombaan tersebut. Sepertinya mereka juga sangat antusias untuk mengikuti perlombaan. Berbeda dengan Mira yang hanya sibuk memainkan gadgetnya. Aku sangat heran dengannya. Ia berasal dari keluarga mampu, namun ia hanya menghabiskan waktunya untuk bermain game. Ia selalu beranggapan bahwa membaca itu sangat membosankan dan hanya membuang waktu. Berbanding terbalik dengan keadaanku yang berasal dari keluarga kurang mampu tetapi sangat mendambakan untuk menjadi orang sukses. Di sela – sela kegiatanku aku selalu menyempatkan diri untuk membaca buku entah di rumah atau di sekolah. Namun lain halnya dengan temanku Mira, kurangnya membaca membuatnya sulit dalam memahami pelajaran dan selalu mendapat peringkat terakhir di kelas.
Akan tetapi dia tidak pernah sedikitpun menghiraukan bahkan terus berlarut dengan kebiasaanya itu.
Saat hendak ke perpustakaan aku berpapasan dengannya dikoridor sekolah. “Ke perpustakaan lagi, yah?” tanyanya dengan sinis.
“Apakah kamu tidak bosan setiap hari hanya membaca?” tambahnya lagi dengan nada ketus.
Aku memandangnya dengan senyum. “Yah, aku ke perpustakaan. Ayo, ikut denganku. Di sana ada segudang ilmu dan banyak hal baru yang menarik yang bisa kamu temukan dengan membaca.” Jawabku dengan senyum.
“Ahh, buang waktu saja.!jawab Mira ketus lalu berlalu entah kemana.
“Andaikan saja hobiku ini bisa kutukarkan denganmu, betapa senangnya aku sebagai sahabatmu.” Desahku dalam hati. Akupun masuk ke perpustakaan dan mengambil beberapa buku untuk di baca.
Beberapa hari kemudian, waktu perlombaan akan segera berlangsung. Beberapa siswa yang mengikuti lomba memasuki ruangan dan tepat pukul 08.30 pagi perlombaan dimulai. Aku yang menjadi duta kelas VI tekun menyelesaikan tulisanku dengan harapan dapat memberikan yang terbaik. Keesokan harinya hasil diumumkan oleh para juri. Semua peserta tampak gugup. Saat juri mengumumkan hasilnya untuk menulis cerpen namaku disebut sebagai pemenangnya. Demikian juga dengan membaca puisi, aku berhasil meraih juara 1. Dengan terharu aku menatap langit sambil mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena usahaku tidak sia- sia.
Tidak lama berselang aku dipanggil kedepan untuk menerima penghargaan. Teman- teman sekelasku memberi dukungan dengan bersorak sorai dan bertepuk tangan. Kami sangat gembira. Suasana tersebut membuatku terharu dan menitikkan air mata. Setelah semuanya berakhir, lalu kami semua pulang ke rumah masing – masing dengan hati yang riang.
Keesokan harinya aku Kembali ke sekolah seperti biasanya. Tiba – tiba aku dikejutkan oleh suara Mira. “Selamat yah Andini atas kemenangannya. Aku rasa itu adalah sebuah keberuntungan saja.! Katanya mengejekku.
Aku tidak putus asa dengan dengan perkataanya dan tetap berpegang teguh pada prinsipku bahwa menjadikan kritikan sebagai motivasi dalam menggapai cita – cita. Waktupun berjalan begitu cepat. Aku menjadi perwakilan dari gugus dua untuk mengikuti perlombaan di tingkat kecamatan. Dengan tekun aku merangkaikan kata demi kata menjadi kalimat yang indah. Aku berhasil menyelesaikan tulisanku dengan baik. Hari itu juga pemenangnya diumumkan. Betapa terkejutnya aku karena lagi – lagi namaku disebut sebagai pemenangnya. Aku terharu dan kali ini akupun menjadi duta kecamatan untuk melanjutkan perlombaan di tingkat kabupaten. Aku terus belajar dengan membaca dan membuat tulisan sederhana untuk melatih memperkaya kosa kata. Disamping itu aku tidak lupa berdoa. Lewat doa semuanya pasti dilancarkan.
Hari berganti hari, akhirnya tiba juga saatnya untuk mengikuti perlombaan di kabupaten. Aku mendapat teman baru, pengalaman baru dan dapat bertemu dengan bapak Bupati. Hal ini juga yang membuat orang tuaku bangga. Semuanya kuikuti dengan penuh keseriusan. Aku mengikuti setiap proses dan dengan tenang aku mengikuti lomba. Usai perlombaan aku dan teman – temanku penasaran. Pengumuman kejuaraanpun tiba. Juara 1 dan seterusnya dibaca dan akupun terkejut karena aku mendapat juara 4. Yah, aku akui bahwa di tingkat kabupaten persaingan begitu ketat. Dan aku tetap bersyukur karena masih masuk dalam lima besar. Aku sangat bangga karena dapat mengharumkan nama sekolah, membanggakan orang tua serta pertolongan Tuhan sehingga aku bisa meraih juara.
Dua hari setelahnya, aku Kembali kesekolah. Tiba – tiba Mira mengagetkanku. “Selamat yah Andini atas keberhasilanmu. Aku sangat bangga kepadamu. Ternyata ketekunan dan kebiasaan membaca selama ini tidak sia- sia.” Katanya sembari menitikkan air mata. “Aku ingin seperti dirimu.” Lanjutnya lagi.
“kamu pasti bisa seperti aku. Mulai sekarang banyaklah membaca. Membaca adalah kunci kesuksesan dan jendela dunia.” Ujarku sambal memeluknya erat.
Sejak saat itu Mira rajin membaca. Sekarang dia menjadi juara kelas. Prestasinya semakin meningkat. Aku sebagai sahabatnya turut bangga dengan prestasi yang diraihnya.





