
Teropongindonesianews.com
Maumere – Ketika kita mendengar atau orang menyebut pulau Palue, terlintas bayangan kita beberapa kisah pilu yang pernah terjadi beberapa tahun silam. seperti kisah tenggelamnya Kapal motor Karya Pinang yang menewaskan puluhan manusia, Kisah meletusnya gunung api Roketenda.,membuat beberapa warga desa harus mengungsi di beberapa tempat. Namun di balik kisah sedih itu ada tersimpan sejuta rahasia sang pencipta dengan pemandangan alam yang indah dari atas bukit Poa Nua Koja.

Pulau Pulae yang terkenal dengan sebutan Tana Lu,a ,, merupakan salah satu wilayah kecamatan yang berada di wilayah utara kabupaten Sikka ,-propinsi Nusa Tenggara Timur. dengan keadaan toporafi berbukit-bukit yang tinggi dan memiliki gunung api aktif.. Keadaan alam ini membuat warga Palue mengalami kesulitan air minum. Satu-satunya harapan akan kebutuhan air minum adalah air hujan.
Salah satu alternative lain akan kebutuhan air minum adalah uap panas bumi yang di suling untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Wilayah Palue ada beberapa tempat uap panas bumi yang digunakan warga setempat untuk air minum.
Bukit Poa Nua Kaju adalah salah satu tempat uap panas bumi yang disuling untuk menghasilkan air yang digunakan untuk komsumsi. Bukit yang terletak di dusun Edo – Desa Keso Koja – Kecamatan Palue, memang kelihatan agak gersang karena memang di dalamnya mengandung panas bumi ,dan muncul uap yang sangat panas di permukaan tanah.
Media TIN,Com, Agus Badjo ketika mengunjungi lokasi secara dekat. Kondisi jalan menuju bukit Poa Nua Kaju ekstra hati-hatil : jalan lebar satu meter, tanjak cukup tinggi dan berbelok-belok, Dan kalau kita dari pelabuahan kapal fery membutuhkan waktu 30 menit dan hanya menggunakan kendaraan roda dua ( motor ).
Pemandangan bukit Poa Nua Kaju sungguh indah, dari atas bukit kita memandang ke laut sangat indah apalagi saat pagi matahari terbit atau sore hari saat mata hari terbenam, Di sekitar puncak bukit dihiasai berapa bambu-bambu penyuling uap panas bumi.dan ada beberapa warga setempat anak-anak dan ibu-ibu mengambil air minum. Menurut pengakuan ibu Pilo, 35 thn, dusun Edo-Desa Keso Koja , air ini tidak mengandung belerang atau kapur, rasanya hampir melebihi air aqua. Air yang ditampung sehari bisa dapat tiga puluh lima liter. Biasanya tampung pagi sore ambil atau tampung sore pagi ambil..
Setiap pengunjung yang datang pasti merasa kagum atas kebesaran sang ilahi , bukit gersang, panas dan menghasilkan air bersih. Setetes air dari bukit gersang telah menghilangkan rasa dahaga umat manusia setempat..( Agus Badjo /TIN Com Maumere)
‘






